Pipit Dewasa

08Des09

Jika aku adalah seekor pipit dewasa, kan kubawa terbang raga ini. Kan kudinginkan sarafku ini dengan belaian angin. Kan kuhangatkan kematian nadiku dengan sentuhan sang surya. Kuberharap di atas sana kuberjumpa pipit cintaku.
Raga ini melemah. Namun, rasa ini semakin menderu, mengencang, dan meretakkan sisi-sisi kelembutanku hingga setiap darah dalam tubuhku mengucur deras, meninggalkanku dalam kematian rasa. Ketakutan luar biasa!
Jari ini lemas, nafas ini melambat, tetapi cinta ini semakin santer mengiringi ketidaksadaranku. Aku terjebak pada rasa yang tak sanggup aku pilah. Keduanya semakin melekat, menghimpitku di tengah, dan membuatku tak berdaya lepas meskipun hanya sekedar melepaskan ucapan permintaan. Bisu. Apakah lorong gelap ini nyata? Ataukah aku telah terseret arus logika yang begitu gencar memasungkan kekuatanku?
Kelak, jika ku tak dapat selamat dari roda berduri yang terus menggilasku ini, kutitipkan cintaku padamu. Cintaku tak akan pernah mati.


Kuingin mencintamu dengan sederhana…
Di tengah teratai cinta yang mengapung tenang di kolam hangat, tak kusadari salju-salju liar tlah menghantamku dengan lembut kadang menghempas aku yang sedang membayang di tengahnya. Kucoba membuka mata tapi salju itu tetap saja memaksa masuk menggantikan putihnya bola mataku. Aku terdiam, meratapi masa laluku. Akankah sesuatu yang sama akan terulang dua kali? Apakah aku ‘kan melukai teratai yang kedua. Kuharap tak ‘kan ada lagi teratai ketiga yang mati karenaku. Mati karena aku tak mampu menahankan pertahananku.
Kuteringat sekitar 7 bulan lalu kumasih bermimpi dan berandai tanpa jawaban. Sedang apakah wanita yang tlah Tuhan janjikan untuk setiap kaum Adam yang lahir. Kapan ku ‘kan menemuinya. Dan kini, 7 bulan kemudian, mimpi itu seakan menjadi mimpi baru. Apakah ku tak diijinkan berjodoh?
Malam itu, suara lantang mama begitu khas dan keras di telingaku, meski beliau begitu berhati-hati dan lembut. Beliau katakan: “Dik, pacarmu itu beda adat dengan kita. Kuharap kamu jauhi dia.”
Kubergegas diam dan tubuh ini lunglai terbujur di depan pintu kegagalan. Mamaku, orang yang paling kuhormati dan kuanut, meminta sesuatu yang berat kulakukan. Sekitar 6 tahun lalu kupernah rasakan sesuatu yang sama. Namun, bukan orangtuaku yang melarang, melainkan orangtua kekasihku. Kuteringat jelas waktu itu ada perkataan: “Kamu boleh pacaran dengan siapapun, kecuali dengan Dio!”.
Tangis tak dapat kubendung setiap kali kumasuki kamarku, ruangan sekaligus sahabatku yang telah menemani dan melindungiku lebih dari 20 tahun. Ia selalu menerima suasana hatiku. Bahagia, senang, susah, bahkan sedihpun tak membuatnya berhenti menemaniku. Tangis itupun semakin iba begitu kusentuh air wudhu tuk tenangkan hati. Deras air mengalir dari kedua mataku ketika kutunaikan dzikirku padaNya. Bukan lagi sedang berbohong, tetapi hati ini telah tumpul. Jika tak segera kutemukan obatnya, niscaya kelak hati itu tak akan berasa untukku.
Mama, aku begitu mencintai kekasihku. Tak kupedulikan lagi jutaan liter air mata mengalir mengantarkan setiap kepergiannya. Aku tak mencintanya macam-macam. Cinta ini tulus. Dan kini aku tak dapat putuskan sesuatu atas permintaan Mama yang begitu sulit.
Ribuan kilometer tlah menjadi dekat karena cinta ini.




Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.